Quantcast
Channel: Nasirullah Sitam
Viewing all articles
Browse latest Browse all 749

Bukit Panguk Kediwung, Spot Asyik Berburu Kabut di Mangunan

$
0
0
Bukit Panguk Kediwung, Spot Asyik Berburu Kabut di Mangunan
Bukit Panguk Kediwung, Spot Asyik Berburu Kabut di Mangunan

Bukit Panguk Kediwung mencuat pertengahan tahun 2016. Beredar foto-foto indah di Instagram yang diambil dari sana. Kabut tebal merata di setiap penjuru serta halus bak kapas, ditambah dengan gardu pandang menghadap ke arah timur membuat tempat tersebut laksana di atas awan. Terlebih kehadiran model yang berpose di atasnya. Karya-karya indah di Bukit Panguk bisa kita lihat di akun instagramnya teman-teman Insta Nusantara yang berdomisili di Jogja.

Lebih dari setengah tahun setelah Bukit Panguk dikenal, aku baru menyempatkan berkunjung ke sana. Awalnya ini tidak direncanakan. Akhir pekan, aku bersepeda bareng teman menuju Jurang Tembelan. Niatnya hanya ingin menambahi foto blog dengan ikon baru yang berbentuk kapal. Berhubung waktu masih pagi, aku mengajaknya untuk mengunjungi tempat lain. Pilihanku jatuh pada Bukit Panguk, karena lokasi dari Jurang Tembelan tinggal beberapa kilometer saja. Itupun jalanan relatif menurun, tak ada tanjakan berarti ke sana. Kecuali jalanan pulang ke Jogja dari arah Bukit Panguk.

Jalanan menuju Bukit Panguk Kediwung mengingatkanku pada jalanan di Karimunjawa. Jalan aspal yang sudah rusak, ditambah setiap sisi lebih dominan pepohonan. Benar-benar mirip jalan Karimunjawa – Kemujan sewaktu belum diperbaiki. Bagiku, jalanan seperti ini tidaklah kejam. Hanya saja bagi kalian yang baru pertama kali mengunjungi kawasan Dlingo dan sekitarnya harus berhati-hati. Setiap jalan mempunyai tanjakan dan tikungan tajam, sehingga harus benar-benar waspada. Jangan sampai lengah agar semuanya berjalan dengan lancar sampai tujuan.
Menyusuri jalanan rusak menuju Bukit Panguk Kediwung
Menyusuri jalanan rusak menuju Bukit Panguk Kediwung

Kuikuti jalan menurun dari Jurang Tembelan mengikuti rute jalan ke Bukit Panguk. Febri sudah terlebih dulu mengayuh pedalnya, sepeda dia lebih mumpuni untuk melibas jalan turunan yang tajam. Aku sendiri yang sudah mengetahui medan jalan mengatur rem sepeda. Tepat di tikungan setelah Jurang Tembelan ada tikungan tajam, sehingga aku harus mengatur ritme sepeda lebih lambat. Selepas itu aku bisa memainkan kecepatan sepeda beragam. Tak ada lagi turunan tajam, yang ada sekarang jalanan berlubang.
Gapura kecil di Bukit Panguk Kediwung berada di tengah-tengah pepohonan Jati
Gapura kecil di Bukit Panguk Kediwung berada di tengah-tengah pepohonan Jati

Tidak sulit menemukan Bukit Panguk Kediwung, setiap jalan sudah dilengkapi dengan plang petunjuk arah. Mendekati lokasi, jalanan lebih bercampur tanah dan berbatu. Setiap sisi jalan merupakan perumahan warga. Sembari mengayuh pedal sepeda, aku menyempatkan menyapa warga yang beraktifitas. Sambutan warga sangat ramah, mereka begitu terbuka dengan setiap pengunjung.

“Hati-hati, mas. Jalannya licin, semalam hujan,” Begitulah ucapan para warga yang menyapaku pagi ini. Menyenangkan sekali rasanya.

Rute menuju Bukit Panguk Kediwung
Rute yang paling mudah ke sini hampir sama dengan menuju Gardu Pandang Mangunan. Dari Kota Jogja – Jalan Area Makam Imogiri– Jalan menuju Mangunan (Pinus, Becici, dll) – Pertigaan ambil arah Mangunan – Turun terus melewati Mangunan sampai ketemu plang arah Bukit Panguk Kediwung.

Jika dari Jurang Tembelan, atau dari area Parkir Gardu Pandang Mangunan, untuk menuju Bukit Panguk sekitar 15 menit lagi (mengendarai kendaraan bermesin). Diharapkan berhati-hati untuk yang menggunakan mobil karena jalanan tidak begitu luas. Selain itu pastikan kendaraan yang digunakan benar-benar kuat melibas jalanan di Mangunan.

Di depanku sebuah gerbang kecil berbentuk love sudah menyambut. Berada di tengah-tengah perkebunan jati yang masih kecil. Area Bukit Panguk Kediwung sudah dikelola warga setempat. Sebuah gazebo kecil di samping jalan masuk dipenuhi bapak-bapak warga setempat yang menunggu pengunjung datang. Beliau silih berganti mengatur motor dan mobil yang akan parkir. Di sini, jalan masuk dan keluar berbeda. Jadi para bapak yang menjaga akan mengarahkan pengunjung yang ingin meninggalkan destinasi ini.

Sepeda yang kunaiki diperbolehkan masuk sampai di tepian gardu pandang. Aku harus menuntun sepeda, jalanan di sini becek karena semalam diguyur hujan. Ya, jika hujan semalaman mengguyur area sini, nantinya jalan yang masih dominan dengan tanah liat akan menggumpal di alas kaki, tak ketinggalan ban sepedaku.

Seperti yang sudah diketahui, Bukit Panguk Kediwung adalah destinasi wisata yang menawarkan keindahan alam. Barisan bukit di seberang ditambah dengan kelokan Sungai Oya di bawah menjadi daya tarik para wisatawan berkunjung. Jika memang ingin menikmati keindahan yang eksotik, kalian ke sini pada pagi hari.
Salah satu spot berfoto di Bukit Panguk Kediwung yang menghadap ke Sungai Oya
Salah satu spot berfoto di Bukit Panguk Kediwung yang menghadap ke Sungai Oya

Gumpalan awan lembut bak kapas akan menjadi pemandangan yang indah. Di sini pula para fotografer berkumpul untuk membidik momen indah tersebut. Jangan kaget kalau ada banyak foto indah ketika kalian menulis kata “Bukit Panguk” pada searchInstagram. Sebagian besar adalah foto yang menampilkan kabut dan sunrise ditambah model yang duduk/berdiri di gardu pandang menghadap ke timur.

“Kalau foto disayap Kupu ini bayarnya Rp. 3.000, mas,” Ujar mas yang jaga di spot swafoto baru berbentuk sayap Kupu-kupu.

Aku mengantri dan membayar Rp.6.000 untuk dua orang. Lelaki tanggung yang bertugas jaga memberikanku dua karcis.

“Antri 15 menit lagi ya, mas. Silakan keliling dulu kalau ingin memotret.”

Sebelum aku memang ada sekeluarga yang asyuk memotret. Aku menuju Gardu Pandang yang sepi dan gratis terlebih dulu untuk memotret sepeda. Papan-papan kecil yang menjadi titian sudah kotor bekas tanah liat. Sudah pasti ini bekas tanah yang menempel di alas kaki dan terkena papan di sini. Kubawa sepeda untuk jadi properti foto. Oya, sebelum berfoto di sini menggunakan sepeda, aku sudah meminta ijin dari mas yang jaga dan diperbolehkan. Jangan lupa ijin terlebih dulu jika ingin memotret dan menggunakan properti tertentu.
Spot asyik berfoto bareng sepeda
Spot asyik berfoto bareng sepeda

Tak lebih 10 menit saja, aku sudah selesai berfoto di area Gardu Pandang yang gratis. Di Bukit Panguk Kediwung ada beberapa gardu pandang. Ada yang gratis dan ada yang berbayar. Sewaktu aku ke sini, gardu pandang berbentuk sayap kupu ini salah satu yang berbayar. Sementara spot lainnya belum jadi (mungkin sekarang sudah jadi). Ketika namaku dipanggil mas yang menjaga, aku dan Febri bergantian foto.

Ingin rasanya membawa sepeda ke sini dan berfoto bareng. Berhubung ban sepeda kotor, dan ketika berfoto harus melepas alas kaki, jadi di sini tidak bisa menggunakan properti sepeda. Apalagi setiap orang hanya diberikan waktu 3 menit untuk berfoto. Aku dan Febri gantian berfoto, kami berdua hanya membutuhkan waktu empat menit saja.
Spot Sayap Kupu, di sini bayar Rp. 3.000
Spot Sayap Kupu, di sini bayar Rp. 3.000 

“Masih ada 2 menit mas,” Ujar mas yang menjaga.

“Nggak apa-apa, mas. Biar gantian yang lain saja. Kasian dari tadi nunggu,” Jawabku tertawa.

Empat cewek yang duduk dibatang kayu sedari tadi mengunggu antrian tertawa. Mereka beranjak gantian berpose foto. Aku sendiri tidak lantas pergi, malah asyik berbincang dengan mas yang menjaga Sayap Kupu. Jika tidak salah, nama beliau adalah Mas Fajar.

“Kalau yang foto di sini setiap akhir pekan biasanya 100 orang mas. Tapi untuk keseluruhan yang datang saya tidak tahu. Kan mereka tidak semua foto di Sayap Kupu.”

Bisa jadi pengunjung yang datang tiap harinya di sini lebih dari 300 orang/hari. Ini hanya perkiraanku saja sih. Bisa jadi malah lebih dari 300 orang, karena pihak yang menjaga di sini tidak bisa mengira-ngira. Mas Fajar hanya mengetahui orang yang swafoto di area berbayar saja.

“Ini lokasi favorit para teman Insta Nusantara ya, mas?” Tanya kembali.

“Mas kenal dengan teman-teman Insta Nusantara? Iya mereka memang sering motret di sini,” Sembari menyebut nama-nama mereka. Aku memang mengikuti beberapa akun tersebut, persis dengan yang disebut oleh Mas Fajar.

“Hanya mengikuti mereka saja di Instagram, mas.”
Tahan dulu posenya, mbak.
Tahan dulu posenya, mbak. 

Sembari berbincang, aku tak lupa membidik salah satu pengunjung yang sedang berpose foto di Sayap Kupu. Aku berteriak agar mbak tersebut mau menahan posenya sampai aku selesai memotret. Ketika selesai memotret, aku mengucapkan terima kasih pada mbak tersebut.

Setiap spot berfoto di sini seluruhnya menghadap ke Sungai Oya. Aku menghitung ada lebih dari tiga spot berfoto. Setiap gardu pandang selalu ramai digunakan para pengunjung untuk berswafoto. Butuh kesabaran untuk memotret gardu pandang tanpa ada orang di atasnya. Dari sini pula, kita dapat melihat keindahan alam dari atas. Barisan bukitnya cukup indah dan terlihat hijau.

“Biar nggak siluet motretnya dari sini mas,” Kataku pada seorang remaja yang memotret pasangannya.
Pose lain para pengunjung di Bukit Panguk Kediwung
Pose lain para pengunjung di Bukit Panguk Kediwung

Pemuda tanggung ini mengikuti saranku, pasangannya masih setia menunggu di atas gardu pandang. Mereka silih berganti memotret. Ya, jauh-jauh ke sini kok nggak foto bareng. Itu hanya batinku loh ya, bukan kuucapkan langsung pada mereka berdua. Toh mereka berdua nggak meminta bantuanku untuk mengabadikannya.

Tak terasa sudah lumayan lama aku di sini. segera kuambil sepeda yang terparkir dan melanjutkan perjalanan pulang. Di ujung jalan arah keluar, aku menyapa sekumpulan bapak yang melakukan kerja bakti memberishkan lahan di area Bukit Panguk. Di sini, licinnya jalan cukup terasa di sepeda. Terlebih ban sepedaku kecil.

Jalanan beranjak mulus, beberapa kali kulihat remaja mengendarai sepeda motor berhenti dan melepas sandal. Sandal tersebut dipukul-pukulkan pada aspal. Tanah liat menempel di alas kaki mereka. Aku dan Febri berneti di jalan datar dan menepikan sepeda. Kuambil makanan dan minuman di dalam tas, lalu mengunyah sepotong roti.

“Masih pukul 09.00 WIB. Sepertinya bakalan cepat kita sampai rumah,” Kata Febri meyakinkanku. *Bersepeda menuju Bukit Panguk pada hari Sabtu, 24 Desember 2016.
Baca juga tulisan yang bertema alam lainnya 

Viewing all articles
Browse latest Browse all 749

Trending Articles