Quantcast
Channel: Nasirullah Sitam
Viewing all articles
Browse latest Browse all 749

Ngeblog Asyik di Culturehead Coffee Yogyakarta

$
0
0
Cold Black, minuman yang direkomendasikan kala main di Culturehead
Cold Black, minuman yang direkomendasikan kala main di Culturehead
“Sekilas mirip kedai kopi Lantai Bumi,” Celetukku kala masuk ke Culturehead Coffee di area jalan Kaliurang. 

Aku pernah singgah di kedai Lantai Bumi sewaktu bersua dengan teman bloger. Hanya saja saat itu aku sedang berpuasa, sehingga tidak sempat mencicipi kopinya. Kali ini, kami sengaja ingin berkumpul di Culturehead atas rekomendasi teman-teman ngopi tiap pekan.

Sewaktu luang, aku coba melihat postingan instagram kedua kedai kopi ini. Nyatanya di beberapa unggahan ada sosok-sosok yang sama. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kedua kedai tersebut satu manajemen.

Tulisan berukuran sedang terpampang jelas bertuliskan “Culturehead”. Lokasinya di dekat Kopi TM, tepatnya di jalan Pandega Karya. Satu jalur jalan tersebut sudah ada tiga kedai kopi cukup besar. Malahan, ketiga kedai kopi ini lokasinya hanya sepelemparan batu.
Dinding gelap dengan cahaya lampu putih di sudut-sudut ruangan
Dinding gelap dengan cahaya lampu putih di sudut-sudut ruangan
Sekitaran UGM cukup mudah ditemukan kedai kopi. Saking banyaknya, aku sendiri baru beberapa kedai yang sempat dikunjungi. Salah satunya Antologi Coffee. Menarik rasanya melihat perkembangan kedai kopi di daerah sini.

Nuansa temaram dengan balutan tembok hitam tersaji. Sejurus aku menyapu pandangan, melihat kondisi kedai yang luas ini. Mata menyapu segala penjuru, khususnya mencari meja yang kosong. Dua kali ke sini, dengan orang sama. 

Di tiap sudut terdapat figura dengan foto yang menarik. Sudut ini cukup bagus untuk berfoto saat siang. Tak hanya memanfaatkan dua ruangan (bebas rokok dan ruang rokok). Di teras dekat pintu masuk juga didesain menjadi meja tinggi seperti meja-meja di bar. 

Aku mulai melihat menu yang ada sembari tanya minuman apa yang paling direkomendasikan oleh kedai ini. Pramusaji menyarankan aku mencicipi Cold White. Kali datang kedua aku mencoba Cold Black

Dua kali berkunjung ke Culturehead, pramusaji dan baristanya orang yang sama. Sempat kuberkenalan dengan baristanya yang bernama Yabes. Barista berbadan tanggung dengan rambut gondrong dan tato di lengannya. 

Pramusajinya sendiri perempuan. Aku tidak tahu namanya, hanya sempat tahu akun instagramnya kala melihat postingan di akun Instagram Culturehead. Keduanya juga ramah saat menyapa pengunjung. 
Seorang pengunjung sedang memesan minuman
Seorang pengunjung sedang memesan minuman 
Kedai kopi ini buka mulai pukul 08.00 WIB, pemesanan terakhir pukul 23.30 WIB. Di sini ada tiga barista dan dua pramusaji. Tata ruangan cukup baik, memanfaatkan ruang luas, Culturehead menata meja kursi di tiap sudut ruangan. 

Sebagian tempat duduknya sofa, kursi panjang, dan sebagian lagi yang berada paling depan deretan meja kayu panjang yang bisa dilengkapi enam kursi. Kali ini aku duduk di kursi kayu, niat ke sini ingin menyelesaikan artikel yang sempat tertunda. 

Ruangan yang tergabung dengan barista merupakan bebas rokok. Bagi kalian yang ingin ruangan merokok, di ruang sebelahnya. Hanya tersekat pintu kecil. Cukup luas juga ruangannya, namun lebih luas yang area bebas rokok. 

Bersantai, mengerjakan tugas, main gawai, dan menyendiri; itulah ragam pengunjung kedai kopi. Rata-rata mereka adalah kawula muda yang menghabiskan waktu bersama teman dan pasangan. Aku di sini berempat ditemani Mak Indah Juli, Aqied, dan Ardian. 
Barisan meja kursi untuk pengunjung kedai
Barisan meja kursi untuk pengunjung kedai
Layaknya kedai kopi yang mempunyai ruangan luas, di sini tiap sudut ruangan dihiasi figura. Di tempat duduk dekat barista terdapat figura menarik, pun dengan di pojokan pintu masuk kedai. Bagi para pengunjung yang suka foto diunggah di media sosial, sepertinya sudut-sudut tersebut menjadi spot favorit. 

Kusempatkan berkeliling dan memotret sudut-sudut kedai. Baluran cat hitam dengan lampu tepat di figura seakan-akan ingin menonjolkan sudut ini menarik untuk diabadikan. 

Kunjungan pertama ke sini, aku mencicipi Cold White. Rasanya terlalu manis menurut lidahku. Jika pengunjung suka dengan minuman yang manis, Cold White bisa menjadi pilihan. Rasa susunya lebih dominan. 
Tempat asyik bagi yang hanya ingin sekadar santai
Tempat asyik bagi yang hanya ingin sekadar santai
Jika ingin yang berbeda, mungkin Cold Black bisa menjadi opsi yang lain. Rasa minuman ini jauh lebih pas seleraku. Di beberapa kesempatan, aku agak menghindari minuman manis, tergantung suasananya. Semua kembali pada selera masing-masing. 

Aku paham, pengunjung kedai kopi belum tentu semua suka kopi. Pun dengan yang suka kopi, tiap orang mempunyai selera berbeda. Biarpun pesannya sama, diracik barista berbeda, rasanya juga berbeda. 

Karena tiap waktu sering kumpul ngopi bersama. Aku sedikit paham dengan selera teman kala nongkrong. Sesekali obrolan sewaktu kumpul adalah mengutarakan rasa kopi pesanan yang sama antara kedai A dan B. Pun dengan barista A dan B. Sedikit obrolan tersebut menambah wawasanku tentang kopi, barista, dan rasa. 
Sebelum dilibas habis, sempatkan memotret dulu
Sebelum dilibas habis, sempatkan memotret dulu
“Jadi apa yang kamu kerjakan?” Tanya Mak Indah Juli saat aku membuka laptop. 

“Nyicil draf artikel,” Jawabku. 

Sementara aku asyik melanjutkan tulisan artikel, Mak Indah Juli sendiri bergelut dengan berkas kertas revisi project-nya. Kami larut dengan pekerjaan masing-masing. Aqied yang datang menyusul meminjam kameraku; dia memotret minuman yang dipesannya sembari menunggu Ardian datang. 

Selain asyik melanjutkan artikel yang tertunda, aku sempatkan mengakses internetnya. Untuk sekadar berselancar, berbalas komentar blog, dan main media sosial, di sini cepat. Jika untuk mengunduh file agak terasa kurang menurutku. 
Sesekali bekerja di kedai kopi
Sesekali bekerja di kedai kopi
Kalian yang berada di sekitaran jalan Kaliurang, UGM, dan daerah dekat sana. Jika mencari tempat tongkrongan untuk bersua dengan teman, mengerjakan tugas, atau menikmati waktu sendiri bisa ke sini. 

Di kedai kopi Culturehead kami hanya beberapa jam saja. Tujuannya memang hanya berkumpul, mumpung sebelum di sini kami sedang ada acara di luar. Daripada langsung pulang, kami sempatkan untuk bersua, menyicil pekerjaan, dan tentunya melanjutkan agenda #NgopiTiapPekan. *Culturehead Coffee; Kamis, 31 Mei 2018.

Viewing all articles
Browse latest Browse all 749

Trending Articles