![]() |
Sunrise Pantai Pohon Cemara Karimunjawa |
Malam tampak cerah, aku duduk di gazebo depan rumah paman. Di Gazebo tidak hanya aku, ada Antok (adek sepupu) dan teman-teman lainnya. Suasana malam di kampung halaman menyenangkan. Dari sini, aku dapat melihat milyaran bintang berkilauan di langit. Benar-benar indah pemandangan waktu malam hari.
Menjelang subuh aku sudah bangun, tidak seperti biasanya. Aku menunggu adzan subuh dengan membuka laptop. Maklum, listrik sudah mulai hidup walau terkadang harus mati sendiri karena mesin rewel. Suka padam sendiri. Waktu luang ini aku pergunakan mengedit foto selama di Karimunjawa. Jadi, ketika balik ke Jogja, aku tinggal membuat tulisannya saja.
Tidak ada rencana pagi ini ingin menyambangi pantai. Beberapa hari saat di rumah seringnya pagi mendung. Jadi aku hanya berdiam diri di dalam kamar. Ketika aku keluar mengambil wudhu untuk menunaikan sholat subuh, langit di luar cerah. Sayang sekali jika aku lewatkan begitu saja. Bergegas aku sholat, dan mengubah rencana untuk melihat sunrise di pantai dekat rumah.
Satu pantai yang ingin aku abadikan ketika pagi adalah Pantai Annora, aku sangat yakin pemandangan di sana pasti indah. Berhubung lokasinya agak jauh dari rumah, dan mengharuskan aku mengendari motor (sendiri pula), jadi kutangguhkan saja. Aku mengambil sepeda dan mengayuhnya menuju Pantai Pohon Cemara. Atau yang lebih dikenal dengan sebutan Pantai Pak Carik Karimunjawa.
Penamaan Pantai Pak Carik ini berkaitan dengan lokasinya yang harus melewati jalan setapak (kebun Kelapa) milik pak Carik. Carik adalah sebutan lain dari Sekretaris Desa. Pantai ini hanya berjarak 350 meter dari rumah. Dari rumahku, aku mengayuh sepeda ke arah selatan. Pantai ini tidak asing bagiku, sedari kecil aku sering mengambil kepala yang jatuh di sini. Aku juga sering meminta orang yang memanen kelapa untuk diambilkan kelapa muda.
Sebenarnya aku pernah menunggu sunrise di sini bareng dengan teman-teman backpacker yang menginap di rumahku tahun 2012. Waktu itu, aku berkenalan dengan salah satu teman melalui Facebook, dan dia berencana liburan di Karimunjawa setelah lebaran. Aku yang memang waktu itu berada di Karimunjawa pun menerima mereka. Padahal kami sama sekali belum pernah ketemu sebelumnya. Hanya melalui sms dan telepon kami berkomunikasi, sampai akhirnya mereka berjumlah 7 orang menginap di rumahku. Malahan, aku balik duluan ke Jogja. Sementara mereka masih menginap semalam di rumahku.
Sampai di pantai, tak ada orang lain di sini. Hanya aku sendiri saja. Bulan Juli ini ombak agak tinggi dari arah timur, sehingga pantai ini dan sederetan pantai yang menghadap ke timur terkena angin agak kencang. Dampak lain karena angin adalah sampah laut yang berserakan di pantai. Ada banyak sampah yang terseret ombak sampai ke pesisir. Bagi pantai-pantai yang dijaga dan dibersihkan tentu bukan masalah, dalam sekejap sampah-sampah tersebut dibersihkan. Sedangkan pantai yang seperti ini berbeda nasibnya. Sampah laut ini akan terus ada.
Kulihat di depan hanya ada dua kapalberukuran kecil. Ukurannya lebih besar sedikit daripada sampan. Bisa juga orang mengatakan kalau itu adalah sampan yang diberi mesin. Atau ada yang menyebutnya dengan sebutan perahu. Kapal-kapal kecil itu tidak tertambat di jembatan. Mereka tertambat pada tonggak yang menancap dasar pasir. Kedua kapal yang lokasinya agak berjauhan itu terombang-ambing ombak kecil. Aku sendiri masih setia menantikan mentari terbit dan berharap gumpalan awan tak menutupinya.
![]() |
Kapal yang tertambat di pantai |
Baskara, Mentari, Sang Surya, dan masih banyak lagi kata yang mengartikan Matahari. Dari ujung jauh di sana, sebuah garis lurus membentuk ujung samudra terlihat mentari mulai merangkak naik. Deretan awan tidak begitu tebal, sehingga ketika sang mentari merangkak naik, aku bisa melihatnya secara langsung. Aku mengabadikannya menggunakan kamera smartphone.
Dari Pantai Pasir Cemara ini, mentari muncul dari sisi kiri Pulau Gundul. Sewaktu aku menantikan mentari terbit di Pantai Hadirin, mentari muncul dari dekat dengan Pulau Sintok, di sini pulau Sintok tidak terlihat. Di sini pun sama pemandangannya. Pulau Sinto tetap terlihat di berdekatan dengan Pulau Gundul, Pulau Tengah, Pulau Cilik, dan Pulau Genting. Sedangkan Pulau Seruni hanya terlihat sedikit di belakang Pulau Tengah.

![]() |
Mentari mulai terlihat di ufuk timur |
Tidak banyak kuabadikan. Aku hanya mengabadikan sunrisedengan kapal yang tertambat. Sayangnya pagi ini tidak ada kapal yang berlalu-lalang. Cuaca buruk mempengaruhi para nelayan. Mereka enggan melaut karena ombak relatif lebih besar. Aku menuju sudut lain di pantai ini, menyibak di antara pepohonan Cemara yang belum tumbuh besar. Dan sengaja mengabadikan mentari dengan helaian daun Pohon Cemara. Jika siang hari, di sini terlihat banyak menjulang tinggi pohon Cemara. Pohon-pohon inilah yang mencegah abrasi. Sama seperti bibir pantai yang ada di selatan. Tumbuhan Bakau padat bisa mengurangi abrasi.
Seperti halnya mentari terbenam, rentang waktu mentari terbit dan memperlihatkan cahaya indah juga tidak berlangsung lama. Hanya beberapa menit saja mentari sudah mulai merangkak naik. Tak lagi tampak bulat, hanya memancarkan sinar yang masih berwarna kuning keemasan. Semburat cahaya mentari pagi ini terhalang awan, sehingga dari tepian pantai aku dapat melihat semacam sinar yang menembus awan dan memantul di air. Hanya saja keindahan ini hanya bisa kulihat dengan mata, tidak dapat terabadikan menggunakan kamera smartphone.
Tidak masalah, walau tidak terabadikan, aku masih bisa menyaksikan secara langsung. Aku kembali memotret pemandangan waktu pagi di sini. Dengan objek yang sama, sunrise dan kapal kecil. Selain itu aku juga memotret samudra yang terbentang luas. Pemandangan seperti ini telah aku lihat sejak dulu. Namun sampai sekarang, aku tidak pernah bosan melihat mentari yang terbit dan tenggelam di tengah samudra. Walaupun begitu, aku juga masih sering ternganga takjub saat bisa melihat mentari terbenam ataupun terbit di tengah kota.

![]() |
Masih menatap sunrise pagi di tepian pantai |
Takut kehilangan momen sunrise, aku berusaha agar bisa mengabadikan diri dengan memandang mentari bersama sepeda. Tidak ada Tripod, jadi aku gunakan kayu yang ada di dekat pantai untuk dijadikan Tripod darurat. Walau hanya dengan alat seadanya, aku akhirnya bisa mengabadikan momen tersebut. Sengaja kuunggah foto tersebut di Instagram dengan menyertakan kalimat,
“Ternyata menunggu sunrise jauh lebih jelas hasilnya daripada menunggu lainnya.”
![]() |
Setia menunggu mentari terbit di bibir pantai |
Tentu unggahan di Instagram tersebut terhubung langsung di Facebook dan Twitter menjadi bahan teman-teman untuk merespon dengan candaan. Seperti komentar teman yang mengatakan kode keras, atau hanya dengan kata kasian. Aku sendiri tertawa membaca setiap komentar yang ada di sosmed.
Tidak banyak waktuku di sini, ketika sang surya sudah mulai meninggi. Aku pun berlalu dari pantai ini, mengayuh pedal ke arah rumah dengan perasaan yang puas. Walaupun aku belum bisa bepergian lebih jauh, menulis banyak destinasi di banyak tempat. Aku bersyukur tinggal di Karimunjawa, karena dari sini pun aku bisa banyak menulis apa yang kuabadikan dengan tulisan. Harapanku tidak muluk-muluk, ketika ada orang membaca tulisan Karimunjawa, bukan hanya mengenai Paket Wisata saja. Tapi ada juga cerita mengenai sudut Karimunjawa lainnya.
Alasan itu pula yang membuat aku selalu antusias jika pulang ke Karimunjawa. mengabadikan setiap jengkal sudut Karimunjawa, dan menuliskan di blog. Uniknya, orangtuaku tidak pernah tahu jika aku punya blog, suka menulis di blog ataupun lainnya. Ketika aku menenteng kamera dan berujar akan memotret di pantai, beliau hanya tahu aku akan memotret saja. Tidak ada pikiran lebih jauh untuk aku tulis.*Memotret sunrise di Pantai Pasir Cemara pada hari Senin, 04 Juli 2016.
Baca juga tulisan bertema pantai lainnya